Umum
Mengubah Luka Menjadi Kekuatan: Cerita Inspiratif Kader KMHDI Malang yang Bangkit dari Kemiskinan dan Kini Membangun Usaha dengan Omzet Ratusan Juta per Bulan
Kadek Krisna Dewa Anggana, S.Psi.10 September 20263 kali dilihat

Isi Berita
Malang, kmhdimalang.org —
Bagi seorang anak, rumah seharusnya menjadi tempat pertama untuk mengenal rasa aman. Namun di sebuah rumah di pelosok Buleleng, seorang anak justru tumbuh bersama suara teriakan dan pertengkaran kedua orang tuanya. Begitulah kira-kira keseharian yang dilalui oleh Kadek Krisna Dewa Anggana, seorang pengusaha muda yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Pimpinan Cabang KMHDI Malang periode 2023–2025. Perjalanannya mengajarkan satu hal, bahwa latar belakang bukanlah takdir. Ia adalah bukti hidup bahwa dari mana seseorang berasal tak pernah lebih penting daripada ke mana ia memilih pergi.
Masa Kecil yang Penuh Konflik dan Titik Balik
Krisna tumbuh dalam keluarga dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas. Ayahnya mengalami gangguan kejiwaan dan kerap melakukan kekerasan terhadap ibu dan kakaknya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justru menjadi medan konflik yang ia saksikan hampir setiap hari. Ibunya bekerja keras sebagai penjual sayur, tukang cuci, hingga pembantu rumah tangga, tetapi itu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di sekolah dan di keluarga besar, ia sering dikucilkan karena selain mempunyai ayah yang berbeda dari kebanyakan orang, ketidakharmonisan di keluarga membuat ia juga sangat sulit menjalin hubungan baik terhadap orang lain. Ia menyebut bahwa keluarganya adalah yang termiskin di desa.
"Keluarga saya termasuk yang termiskin di desa. Kami tidak punya sepeda motor, sementara hampir semua tetangga sudah punya. Makan daging sapi atau ayam pun jarang sekali kami rasakan," kenang Krisna.
Di sekolah, nilai akademiknya berada di urutan bawah jika dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya. Mungkin bukan karena ia malas, tetapi karena pikirannya tidak pernah tenang. Di sekolah, ia dihantui rasa khawatir akan pertengkaran yang mungkin terjadi saat ia pulang. Di rumah, ia sering mendapati ibunya menangis atau terbaring lemas setelah dipukul oleh ayahnya. Pernah sekali waktu, ia menyaksikan ibunya dicekik dan diangkat hingga kedua kakinya tak lagi menyentuh lantai. Hanya teriakan dan tangisan yang ia dengar serta ketakutan yang ia rasakan. Bagaimana mungkin seorang anak bisa belajar dengan tenang di rumah, ketika setiap detik dipenuhi kekhawatiran akan kekerasan yang mungkin terjadi lagi.
Titik balik pertama datang saat ia duduk di kelas 6 SD, ketika seorang guru yang tegas namun perhatian membangkitkan semangat belajarnya. Krisna mulai rajin belajar, dan perlahan nilainya meningkat sampai masuk dalam urutan 3 besar di kelas nya. Ketika memasuki jenjang SMP, waktunya banyak dihabiskan untuk berjualan jajan keliling di sekitar rumah. Walaupun begitu, kebiasaan membaca yang dibawa dari SD tetap dilanjutkan. Ia sering menjadi juara 1 di kelas dan sempat mewakili sekolah dalam lomba cerdas cermat agama Hindu dan berbagai perlombaan pada kegiatan pramuka. Namun di balik prestasi itu, ia harus berjuang dengan keterbatasan ekonomi. Uang jajannya hanya Rp1.000 – Rp2.000 per hari yang hanya cukup untuk menyewa angkutan umum. Ia juga sering dipanggil guru karena telat membayar buku LKS. Sebagai ketua kelas dan pengurus OSIS, rasa malunya luar biasa.
"Bayangkan, saat saya jadi ketua kelas dan pengurus osis, saya dipanggil karena telat bayar buku. Betapa malunya saya saat itu," kenangnya.
Setelah lulus SMP, kesempatan besar datang ketika ia diterima di SMKN Bali Mandara, sebuah sekolah berasrama yang saat itu ditujukan bagi anak-anak kurang mampu dari segi ekonomi namun berpotensi untuk maju. Di sana ia harus beradaptasi dengan disiplin semi-militer yang sangat ketat, mulai dari bangun pukul 04.45 pagi hingga jadwal tidur pukul 22.00 malam. Awalnya ia kesulitan dan sering mengantuk di kelas, sehingga menjadi salah satu siswa dengan nilai akademik terendah. Namun ia tidak menyerah. Ia memaksa diri untuk terus membaca meskipun mengantuk, dan belajar setiap malam untuk memahami materi keesokan harinya. Di kelas 11, ia mulai berani tampil di depan umum dengan mengikuti berbagai lomba, mulai dari pidato bahasa Indonesia, pidato bahasa Inggris, dharma wacana, hingga menyanyi solo. Ia juga dipercaya menjadi pengurus OSIS bidang Bahasa Inggris yang bertugas memandu morning speech di hadapan seluruh siswa setiap pagi. Dengan ketekukannya, saat ujian nasional ia masuk dalam lima besar dengan nilai tertinggi di kelas.
Hidup di Titik Nol dan Mulai Merintis Usaha
Lulus dari SMKN Bali Mandara bukan berarti kehidupannya langsung menjadi mudah. Krisna memilih bekerja di perusahaan kelapa sawit di Sumatera Selatan. Pada awalnya ia harus menjalani pekerjaan lapangan yang berat sebelum akhirnya ditempatkan sebagai staf administrasi di sebuah yayasan pendidikan di lingkungan perusahaan.
Kehidupan ekonominya saat itu kembali penuh tantangan. Gaji pertamanya hampir seluruhnya dikirim untuk kebutuhan keluarga. Uang yang tersisa untuk makan selama sebulan bahkan hilang karena dicuri. Ia menjual satu-satunya handphone yang ia miliki hanya untuk bertahan hidup.
"Saya makan nasi hanya sekali sehari. Saya tidak punya HP selama lebih dari satu bulan. Untuk menghubungi keluarga, saya pinjam HP teman," kenangnya.
Tahun pertama bekerja, alih-alih memiliki tabungan, Krisna justru memiliki banyak hutang. Ketika kondisi kesehatan ayahnya semakin memburuk, ia harus beberapa kali pulang-pergi Sumatera Selatan – Bali untuk mendampingi ayahnya di rumah sakit. Beberapa bulan setelahnya, ayahnya kemudian meninggal dunia. Ia memutuskan untuk berhenti bekerja di Sumatera dan pulang ke Bali setelah melunasi beberapa hutang.
Sekembalinya ke Bali, ia mencoba berbagai usaha. Ia pernah berjualan masker dan face shield ketika pandemi COVID-19, berjualan cabai dan rempah-rempah, hingga menjual tas dan pakaian melalui marketplace facebook. Tidak semuanya berhasil. Namun, pengalaman tersebut membentuk satu kebiasaan penting, yaitu terus mencoba dan belajar dari kegagalan. Kemudian kesempatan besar datang secara tidak sengaja. Ketika seorang pelanggan yang membeli tas bertanya apakah Krisna juga menjual aksesoris. Kemudian ia menawarkan beberapa produk kepada pelanggan. Produk itu ternyata laku. Ia kemudian mencoba membeli lagi beberapa aksesoris untuk dijual kembali melalui marketplace facebook. Tidak disangka, seluruhnya habis hanya dalam satu hari. Keuntungan yang diperoleh kembali ia putar sebagai modal. Dari hanya beberapa produk, penjualan berkembang menjadi belasan produk per hari.
Dalam 10 bulan, ia berhasil menabung untuk membuka toko. Kemudian ia merekrut karyawan, mempelajari pemasaran digital, dan mulai menggunakan e-commerce untuk mengembangkan usaha. Omset terus naik setiap bulan dan toko terus berkembang baik dari segi varian produk, pemasaran, maupun tata kelolanya. Kini, usahanya memiliki 7 karyawan dan omzet ratusan juta per bulan.
Menempa Kepemimpinan di PC KMHDI Malang
Ketika usahanya mulai stabil, Krisna memutuskan melanjutkan kuliah S1 di Malang. Walaupun sudah punya toko, masih banyak hal yang ia rasakan perlu dikembangkan dari dirinya, yaitu kemampuan sosial dan kepemimpinan. Untuk itu ketika kuliah, sebisa mungkin ia mengikuti berbagai kegiatan yang memungkinkan bisa bertemu banyak orang. Sejak kecil, ia tidak pernah memiliki lingkungan yang mendukung untuk belajar bersosialisasi. Ia tidak memiliki banyak teman dekat, tidak pernah memiliki circle pertemanan yang erat. Keterampilan sosialnya ia akui sangat rendah. Saat semester 5, Ia bergabung dengan KMHDI dan pada tahun 2023 dipercaya menjadi Ketua PC KMHDI Malang periode 2023 - 2025.
"Saya sadar dari kecil saya kurang teman dan tidak pernah punya circle kecil. Saya bergabung dengan KMHDI karena saya ingin belajar menghadapi banyak orang," ujarnya.
Baginya, KMHDI adalah ruang belajar untuk mengasah kemampuan yang tidak didapatkannya di bangku kuliah. Awal kepemimpinannya tidak mudah. Banyak konflik internal dan kesulitan mengarahkan anggota. Krisna bahkan mengerjakan banyak hal-hal teknis di tahun pertama. Namun ia terus mencari Solusi.
Tahun kedua, ia mengubah pendekatan. Ia mulai mendelegasikan tugas secara proporsional dan berkonsentrasi pada hal-hal strategis, seperti membangun jejaring dengan instansi pemerintahan, legislatif, dan organisasi eksternal lainnya. Di bawah kepemimpinannya, KMHDI Malang menjadi lebih aktif dalam berjejaring ke instansi pemerintah dan keagamaan. Ia sempat beberapa kali menyampaikan aspirasi melakukan audiensi dengan ketua DPRD, Wakil Wali Kota, dan Bupati Malang. Saat musyawarah cabang di akhir kepengurusannya, ia menggelar kegiatan di Gedung DPRD Kota Malang yang dihadiri oleh Wakil Wali Kota dan Ketua DPRD Kota Malang serta jajaran instansi pemerintah dan keagamaan di Kota dan Kabupaten Malang.
Pengalaman memimpin organisasi membantunya membangun sistem dalam bisnis. Ia belajar memilih tim, membagi tanggung jawab, berkomunikasi secara efektif, dan memimpin secara lebih strategis. Kemampuan negosiasi, manajemen konflik, dan delegasi yang ia asah di KMHDI ia terapkan untuk mengembangkan usahanya.
Pesan untuk Kader KMHDI
Krisna berpesan kepada kader KMHDI agar tidak menyerah pada keadaan. Baginya, organisasi seperti KMHDI menyediakan ruang untuk belajar, berjejaring, dan mengembangkan diri.
"Untuk mencapai mimpi, tidak harus pintar sejak awal. Yang penting kita tahu kelemahan kita dan terus belajar memperbaikinya. Membangun cita-cita itu butuh waktu yang panjang, butuh banyak percobaan dan kegagalan. Dari situlah kita menemukan pola dan strategi yang tepat hingga akhirnya menyusun langkah-langlah konkret untuk mimpi kita," ujarnya.
"Kita tidak bisa memilih dari mana kita memulai, tapi kita bisa menentukan ke mana kita akan melangkah. KMHDI telah mengajarkan saya itu," tutupnya.
Kategori :
UmumBagikan:
Berita Terkait
Berita lainnya dalam kategori Umum

