Kenduri Kebudayaan Maba Polinema: PC KMHDI Malang Bawa Pesan Perdamaian "Tuhan Tidak Pernah Minta Dibela"

Dalam kesempatan tersebut, I Made Ariana menyampaikan pentingnya melihat agama tidak hanya sebagai identitas, tetapi juga sebagai sumber nilai yang mendorong manusia untuk menjaga kehidupan dan menghormati sesama. Ia mengingatkan agar semangat dalam menjalankan keyakinan tidak berubah menjadi sikap yang merendahkan atau menyakiti orang lain. “Tuhan tidak pernah minta untuk dibela. Jangan sampai kita fokus pada identitas agama sampai ada orang yang mengaku membela Tuhan, tetapi justru menghancurkan ciptaan-Nya,” ujar Ariana dalam pemaparannya.
Menurut Ariana, keberagamaan seharusnya dapat tercermin melalui cara seseorang memperlakukan manusia dan lingkungan di sekitarnya. Ia menilai bahwa perbedaan agama dan keyakinan di lingkungan kampus merupakan bagian dari realitas kehidupan yang harus dihadapi dengan dialog dan saling menghormati. Toleransi bukan berarti seseorang harus meninggalkan keyakinannya, tetapi memberikan ruang kepada orang lain untuk menjalankan keyakinannya dengan aman dan bermartabat.
Ariana juga mengajak mahasiswa untuk tidak menjadikan perbedaan identitas sebagai alasan untuk membangun sekat. Kampus, menurutnya, dapat menjadi ruang belajar untuk membangun kehidupan yang lebih inklusif karena mahasiswa berasal dari berbagai latar belakang agama, budaya, daerah, dan organisasi. “Kita mungkin tidak selalu sepakat dengan orang lain, tetapi ketidaksepakatan tidak harus membuat kita kehilangan rasa hormat,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa menjaga perdamaian dapat dimulai dari tindakan sederhana dalam kehidupan mahasiswa, seperti menghormati praktik keagamaan orang lain, tidak melakukan penghinaan terhadap keyakinan tertentu, membuka ruang dialog, serta membangun kerja sama tanpa melihat perbedaan identitas. Dengan demikian, toleransi tidak hanya menjadi sebuah konsep, tetapi hadir dalam interaksi sehari-hari.
Ia juga menyebutkan bahwa Hindu mengajarkan inklusivitas. Hindu mengenal yang namanya "Basudeva Kutumbakam" yang bermakna, semua adalah saudara. Sehingga, jangan sampai saling bertengkar dengan saudara sendiri, bahkan ketikapun mereka adalah orang yang berbeda agama.
Melalui kehadirannya dalam Kenduri Kebudayaan, PC KMHDI Malang turut membawa pesan bahwa perbedaan tidak harus berakhir pada perpecahan. Setiap kelompok memiliki identitas dan keyakinannya masing-masing, tetapi seluruh manusia tetap memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kehidupan dan membangun ruang bersama yang damai.
“Jangan sampai kita mengaku sedang membela Tuhan, tetapi cara kita justru menghancurkan ciptaan-Nya. Kalau kita ingin berbicara tentang Tuhan, mari mulai dengan menjaga kehidupan, menghormati manusia, dan merawat ruang bersama,” tutup Ariana.
PC KMHDI Malang terus mendorong mahasiswa untuk membangun budaya dialog, toleransi, dan kerja sama lintas identitas sebagai bagian dari upaya mewujudkan kehidupan kampus yang harmonis dan inklusif.
Kategori :
Press ReleaseBagikan:
Berita Terkait
Berita lainnya dalam kategori Press Release

Dies Natalis ke-33 Tahun: PC KMHDI Malang Luncurkan Website Resmi

Pembukaan Rakorcab XIII: PC KMHDI Malang Sorot Pentingnya Kemampuan Beradaptasi dengan Kebutuhan Industri Masa Kini
