Alasan mengapa negara religius biasanya terbelakang. Apa salah agama?

Riset tahun 2024 yang dilakukan oleh majalah CEOWORLD menunjukan bahwa, 10 besar negara yang ‘mengaku’ religius merupakan negara dengan PDB per kapita terendah di dunia. Maksudnya secara sederhana adalah, Hasil produktivitas sebuah negara (pada periode tertentu), dibagi jumlah kepala di negara tersebut kecil. Sementara ironisnya, negara yang kita tuduh sebagai negara yang ‘tidak bertuhan’ atau sekuler, seperti negara-negara Skandinavia, China, Amerika Serikat dan lainya, merupakan negara dengan pendapatan per kapita tinggi, infrastruktur pendidikan jauh lebih bagus dan diidentifikasi sebagai negara maju. Lalu apakah agama adalah penghambat peradaban? Atau agama hanya relevan pada masanya? Secara Nilai, agama justru merupakan pendorong majunya sebuah peradaban. Revolusi Industri tidak akan pernah ada, jika tidak ada renaissans. Jepang tidak akan punya etos kerja yang baik jika tidak ada semangat Bushido, tidak akan ada peradaban besar jika kerajaan Hindu tidak pernah ada. Lalu kenapa saat ini agama terkesan seperti penghambat peradaban? Hal ini karena kita dipertontonkan dengan orang yang mengaku ‘Agen Tuhan’ tapi tidak mencerminkan manusia yang berketuhanan. Data pemantauan kasus kekerasan di lembaga pendidikan mencatat sekitar 20% terjadi di institusi pendidikan berbasis agama. Kita bahkan tidak asing dengan kasus-kasus lain yang semacam ini. Dalam Hindu ini disebut zaman Kaliyuga, yakni zaman dimana terjadinya kemerosotan moral dan terkadang susah membedakan mana kebenaran dan mana yang bukan. Lalu apa langkah praktis yang kita harus lakukan? Stop bangga dengan kejayaan masa lalu. Kalau belum move on sama prestasi masa lalu, kan tanda bahwa kita tidak terlalu berprestasi di masa sekarang wkwk. Stop Hidup Slow Living dan munafik. Tuhan tidak suka dengan orang pemalas yang suka metajen, mabuk, berjudi kemudian mengatas namakan agama/budaya. Apalagi tidak punya kontribusi terhadap society. Stop fokus sama simbol-simbol. Hanya karena kita sering melakukan ritual, bukan berarti kita sudah mengamalkan ajarannya. Sering kali ritual hanya membuat kita ‘merasa religius’ untuk kita yang tidak memahami esensinya. Berkontribusi kepada masyarakat sesuai dengan bidang masing-masing Ini adalah sebuah pertanyaan renungan untuk orang yang merasa religius. Bayangkan dirimu adalah Dewa Yama (Hakim akhirat). Kemudian kamu menemukan 2 orang: Orang yang sering sembahyang ke pura, tapi tidak punya kontribusi sama masyarakat. Orang yang tidak beragama, namun menciptakan software yang membuka jutaan lapangan pekerjaan. Jika harus memasukan salah satunya ke neraka, maka kamu memilih yang mana? Saya yakin jawabannya sama. Kalau seandainya benar… Tau dong apa yang harusnya dilakukan…
Kategori :
InformasiBagikan:
Berita Terkait
Berita lainnya dalam kategori Informasi